Selasa, 28 Maret 2017

Syar’i VS Trendi, Manakah Yang Lebih Baik ?

 
Mungkin, ada baiknya jika sejenak saja kembalikan ingatan kita yang mulai memudar tentang sejarah revolusi jilbab yang cukup menggemparkan kala itu. Berawal dari kasus pelanggaran jilbab yang menimpa beberapa siswi muslimah di Bandung pada tahun 1979, kasus serupa terus terjadi. Semakin banyak siswi yang ditengarai melakukan pelanggaran aturan karena jilbab yang mereka kenakan di sekolah. Apalagi setelah diterbitkan Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang secara resmi melarang siswa berjilbab di sekolah, semakin banyak pelanggaran yang terjadi. Jilbaber-jilbaber dari berbagai daerah pantang menyerah dalam mempertahankan hijab mereka. Efeknya, ratusan siswi terpaksa pindah ke sekolah-sekolah swasta, ratusan lainnya rela dikeluarkan dari sekolah, sedang yang lain mengambil jalan tengah yaitu melepas jilbab saat berada di lingkungan sekolah, dan memakainya kembali di luar sekolah.

Akibat dari merebaknya kasus-kasus tersebut, akhirnya timbul lah perlawanan. Pemerintah mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Aksi protes terhadap kebijakan yang dinilai menghalangi kebebasan untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Perjuangan para jilbaber yang mati-matian mempertahankan jilbab, bahkan beberapa kasus hingga melaju ke meja hijau, mengundang semakin banyak simpati. Ormas Islam, Majelis Ulama Indonesia, LSM, masyarakat, media massa, semuanya turut berperan menyuarakan aspirasi para pelajar muslimah. Puncaknya, pemerintah tak bisa membendung arus jilbabisasi. Pergolakan pun berbuah manis. Melalui SK 100/C/Kep/D/1991 pemerintah memberikan kebebasan pada pelajar muslimah untuk tetap berhijab di sekolah.

Sungguh tak mudah perjuangan para pendahulu kita demi memperjuangkan jilbab. Rasanya, amat patutlah jika kita para pelajar muslimah saat ini yang memperoleh kebebasan berjilbab di sekolah mana pun. Mestinya kita berkaca pada semangat jihad yang mereka tunjukkan, pantang menyerah demi menegakkan syariat. Semoga pahala mengalir pada mereka. Aamiin….

Lantas, bagaimana dengan kita setelah diperjuangkan sedemikian rupa ? Benarkah semangat berjilbab kita seperti mereka ? Lebih kuat, ataukah sebaliknya ? Jika dulu mereka berjilbab untuk menegakkan syariat, bagaimana dengan kondisi sekarang ?

Tak asing bagi kita melihat begitu banyak remaja-remaja berjilbab saat ini. Tak hanya di sekolah, namun jilbab telah menjadi pakaian yang lumrah dikenakan di segala tempat dan suasana. Namun sangat disayangka, jilbab masa kini cenderung bergeser dari fungsi jilbab yang semestinya.

Mari kita tengok surah Al Ahzab: 59

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin lainnya, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dan dalam surah An Nuur: 31 disebutkan:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada-nya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka…”

Dalam kedua ayat tersebut jelas sekali bagaimana semestinya busana syar’i. Busana ketakwaan yang oleh Allah telah ditetapkan seperti apa bentuknya.

Sangat di sayangkan, busana syar’i saat ini tertindas oleh busana yang dikatakan trendy. Saudari muslimah kita berjilbab, namun mengesampingkan syarat-syarat busana syar’i demi mengikuti tren, model, gaul, teenlit, dan sebagainya. Jilbab bukan dikenakan atas dasar kecintaan kepada syariat, melainkan sebagai tren yang saat ini sedang in. Pergeseran nilai jilbab ini pun pada akhirnya berimbas pada pergeseran akhlak seorang muslimah. Busana syar’i, sebagaimana firman Allah, adalah untuk menjaga kehormatan kaum wanita. Ketika kaum wanita sendiri menanggalkannya, lalu apa yang terjadi ? Betapa seringnya kita lihat pemandangan seperti ini di sekitar kita. Na’udzubillah …

Marilah sejenak kita merenungi siapa diri kita sesungguhnya. Muslimahkah kita ? Jika iya, marilah kita kembali pada fitrah seorang muslimah sejati yang terus berusaha memperbaiki diri. Mari menjadikan diri kita muslimah yang senantiasa mengarah kepada kaffah, bukan malah kembali pada zaman jahiliyah.

Syar’i adalah dress code dari Allah SWT, sedangkan trendi adalah penilaian dari pandangan mata manusia. Manakah yang seharusnya kita pilih ?

0 komentar:

Posting Komentar